Pendekar Sunnah - Abu Fajri Khusen's Blog

Senin, 07 November 2011

Fat-hul Baari bi Syarhi Shahiih al-Bukhari 5

Edisi ke-5


١ - حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ» 
[٥٤، ٢٣٩٢، ٣٦٨٥، ٤٧٨٣، ٦٣١١، ٦٥٥٣]

1. Al-Humaidi Abdullah bin az-Zubair meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Sufyan meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Sa'id al-Anshari meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ibrahim at-Taimi mengabarkan kepada kami, bahwasanya dia mendengar 'Alqamah bin Waqqash al-Laitsi berkata: Saya mendengar 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata di atas mimbar: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niat masing-masing. Barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ingin diraihnya atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sebatas pada apa yang menjadi niatnya."
[Hadits ini juga tercantum pada hadits nomer 54, 2392, 3685, 4783, 6311, 6553]



قَوْلُهُ حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ هُوَ أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ بْنِ عِيسَى مَنْسُوبٌ إِلَى حُمَيْدِ بْنِ أُسَامَةَ بَطْنٍ مِنْ بَنِي أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قُصَيٍّ رَهْطِ خَدِيجَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَمِعُ مَعَهَا فِي أَسَدٍ وَيَجْتَمِعُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قُصَيٍّ وَهُوَ إِمَامٌ كَبِيرٌ مُصَنِّفٌ رَافَقَ الشَّافِعِيَّ فِي الطَّلَبِ عَنِ بن عُيَيْنَةَ وَطَبَقَتِهِ وَأَخَذَ عَنْهُ الْفِقْهَ وَرَحَلَ مَعَهُ إِلَى مِصْرَ وَرَجَعَ بَعْدَ وَفَاتِهِ إِلَى مَكَّةَ إِلَى أَنْ مَاتَ بِهَا سَنَةَ تِسْعَ عَشْرَةَ وَمِائَتَيْنِ فَكَأَنَّ الْبُخَارِيَّ امْتَثَلَ قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِّمُوا قُرَيْشًا  

Perkataan: حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ (haddatsanaal humaydiyyu) "Al-Humaidi meriwayatkan kepada kami". Beliau adalah Abu Bakar Abdullah bin az-Zubair bin 'Isa, dinisbahkan kepada Humaid bin Usamah, salah satu suku dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, kabilah Khadijah radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Nasabnya bertemu dengan Khadijah pada Asad dan bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada Qushai.
Beliau adalah Imam dan penulis terkemuka. Dia menyertai Imam asy-Syafi'i dalam menuntut ilmu kapada Sufyan bin 'Uyainah dan ulama yang sezaman dengannya. Dia mengambil ilmu fiqih darinya lalu berangkat rihlah bersama Imam asy-Syafi'i ke negeri Mesir. Setelah Imam asy-Syafi'i wafat, ia kembali ke Mekkah hingga wafat disana pula pada tahun 219 H. Disini tampaknya Imam al-Bukhari ingin mengamalkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,  
قَدِّمُوا قُرَيْشًا
 "Dahulukanlah orang-orang Quraisy."



فَافْتَتَحَ كِتَابَهُ بِالرِّوَايَةِ عَنِ الْحُمَيْدِيِّ لِكَوْنِهِ أَفْقَهَ قُرَشِيٍّ أَخَذَ عَنْهُ وَلَهُ مُنَاسَبَةٌ أُخْرَى لأَنَّهُ مَكِّيٌّ كَشَيْخِهِ فَنَاسَبَ أَنْ يُذْكَرَ فِي أَوَّلِ تَرْجَمَةِ بَدْءِ الْوَحْيِ لأَنَّ ابْتِدَاءَهُ كَانَ بِمَكَّةَ وَمِنْ ثَمَّ ثَنَّى بِالرِّوَايَةِ عَنْ مَالِكٍ لأَنَّهُ شَيْخُ أَهْلِ الْمَدِينَةَ وَهِيَ تَالِيَةٌ لِمَكَّةَ فِي نُزُولِ الْوَحْيِ وَفِي جَمِيعِ الْفَضْلِ وَمَالك وبن عُيَيْنَةَ قَرِينَانِ قَالَ الشَّافِعِيُّ لَوْلاَهُمَا لَذَهَبَ الْعِلْمُ مِنَ الْحِجَازِ  

Imam al-Bukhari ingin memulai kitab ini dengan riwayat dari al-Humaidi karena ialah perawi bersuku Quraisy yang paling tinggi ilmu agamanya yang pernah diambil riwayatnya oleh Imam al-Bukhari. Alasan lainnya adalah karena al-Humaidi ulama Mekkah, maka sangat tepat apabila riwayatnya disebutkan di awal bab tentang permulaan turunnya wahyu sebab awal turunnya wahyu adalah di kota Mekkah.
Kemudian pada periwayatan kedua pada bab ini juga, beliau membawakan riwayat dari Imam Malik, seorang ulama Madinah yang merupakan kota kedua tempat turunnya wahyu setelah kota Mekkah. Kedua kota ini memiliki keutamaan. Imam Malik dan Sufyan bin 'Uyainah adalah ulama yang hidup sezaman. Hingga Imam asy-Syafi'i pun berkata, "Tanpa melalui usaha mereka berdua, niscaya hilanglah ilmu dari tanah Hijaz."


______________________
Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Miqdad Abdurrozzaq Al-atsariy.
Murojaah : Abu FajriKhusen
Bersambung insya Allah.


Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan kasih komentar, dengan syarat menjaga adab-adabnya, tidak mengandung kata-kata kotor, makian dan sebagainya. Dan kami tidak melayani perdebatan atas sesuatu yang telah jelas dari al-Qur'an, as-Sunnah dan Ijma', namun jika ada hal yang masih samar, silahkan tanyakan

Kritik dan Sarannya tafadhol

Blog Sahabat Sunnah