Selasa, 01 Maret 2011

ACARA KEMATIAN 7, 40, 100, 1000 HARI ADALAH DARI AJARAN HINDU ??

Bismillah,

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 hari, bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) dan juga Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Disebutkan bahwa kepercayaan yang ada pada sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari dst, /red ) maka rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi).

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : "Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : "Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal" karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : "Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu."

Telah jelas bagi kita pada awalnya ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yasin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Apakah mencampur-campur ajaran seperti ini diperbolehkan??

Iya, campur mencampur ajaran ini tanpa sadar sudah diajarkan dan menjadi keyakinan nenek moyang kita dulu yang ternyata sebagian dari kaum muslimin pun telah mewarisinya dan gigih mempertahankannya.

Lalu apakah kita lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di turunkan Allah kepada RasulNya?

Allah berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqoroh ayat 170)

Allah berfirman :

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya" (QS Al Baqarah 42)

Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah???

Selanjutnya Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu".[QS. Albaqoroh : 208].

Allah menyuruh kita dalam berislam MENYELURUH, tidak setengah-setengah...

TIDAK SETENGAH HINDU...SETENGAH ISLAM...

Allahul musta'an


Sumber : Catatan Al Akh Aris Diansah dengan judul asli "Ajaran Gado-gado (Hindu-Islam)"
http://www.facebook.com/notes/aris-diansah/ajaran-gado-gado-hindu-islam/439464374660


Read more: http://www.abuayaz.co.cc/2010/09/acara-kematian-7-40-100-1000-hari.html#ixzz16rm3ieMU

Artikel Terkait



14 komentar:

imam demak mengatakan...

walh kamu kok sok pinter tow... tu namnay dakwah tnpa mnghpus trdisi... kamu kn baru lahir kmren tow kok bicara islam hindu...

أبو فجر خسين mengatakan...

imam demak :saudaraku, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.
Kami telah mecantumkan kitab rujukannya, baca dengan teliti, baru komentar. Silahkan jika anda ingin membatah, bantahlah dengan dalil, bukan dengan caci maki

Hasan Suwarto mengatakan...

Assalamualaikum,
saudaraku semua,
kalau menurut saya...., weda bukanlah kitab samawi, dan tidak masuk jajaran kitab2 yg harus di yakini (oleh orang Islam),melainkan hasil olah budi manusia sehingga bisa dikatakan BUDAYA yang sudah lama dilaksanakan oleh sebagian bangsa indonesia dan kebetulan ditulis di weda, karena memang budaya merupakan kekayaan bangsa ini yang sebaiknya dipertahankan (jangan sampai diakui bangsa lain) maka sebagian ulama ikut berjuang mempertahankan budaya tsb sebagai media dakwah, dengan memasukan unsur2 islami berupa ayat2 Al-Qur'an sehingga tanpa disadari mereka telah belajar Al-Qur'an. Jadi menurut saya peringatan kematian adalah budaya dan tidak ada kaitannya dengan weda (kecuali dikait-kaitkan). Maka tidak heran setiap malam 17 agustus sebagian bangsa Indonesia mendoakan para pahlawan dengan tahlilan dan mejadi rutin tahuan (khoul), dan didaerah kami menjadi membudaya bahkan terasa hampa jika malam itu tidak dibacakan tahlilan. Apakah ini sesat? Sesatkah bangsa Indonesia yang dengan Ikhlas memperingati kematian para pahlawan? Wallohu a'lam... Saya sebagai warga negara indonesia sangat bangga dengan kekayaan budaya kita yg bisa dijadikan alat pemersatu ini.
Saya juga sangat bangga pada hasil : Keputusan Munas Tarjih XXIII
Tentang Kebudayaan dan Kesenian dalam Perspektif Muhammadiyah. Trimakasih mohon maaf jika ada kesalahan, semoga kita tetap bersatu.....

أبو فجر خسين mengatakan...

wa'alaikumus salam. Semoga Alloh menunjuki kita kepada jalan yg lurus.
Memang sangat menyedihkan keadaan kaum muslimin zaman sekarang, terutama di negeri kita tercinta ini. Mayoritas mereka tidak tahu ajaran islam yang murni yang diajarkan oleh Rasululloh dan diamalkan oleh para shahabat rodhiyallohu 'anhum.
Pada perkara yang telah jelas sekalipun bahwa perkara itu bukan dari islam, mereka sangka itu berasal dari islam.
Agama pun dimodifikasi. Membuat tatacara ibadah yang baru, yang tidak dikenal oleh para shahabat, para imam madzhab pun tidak. Mereka menyangka amalannya itu lebih baik dari para shahabat.
Innaa lillaahi wa innaa 'ilaihi roji'uun

Secerah Mentari mengatakan...

gue tuuh kok heran banget ama orang yang mati-matian membela bid'ah. emang dia dijanjiin dapet apaaaa sih? pulau? laut? matahari atau dunia seisinya?atau langit dan bumi? nggak dapet kan. justru ancaman yang dapat: siapa membuat bid'ah dan menghidupkan bid'ah dan mengikuti dbid'ah teracam neraka. Sedangkan pencinta sunnah akan mendapat Syurga: itu janji yang nyata dari Allah subhanahu wa ta'ala

Blog Remaja Muslim mengatakan...

Menyukai Ini...

Xarel mengatakan...

to: Abu Fajar
anda sngat hebat sekali tentang hindu, tapi yang aneh adalah:
1. Dari jaman dahulu sampai sekarang di Bali yang asli Hindu tidak ada namanya selamatan untuk kematian, yang ada adalah upacara ngaben (pembakaran jenazah)
2.dalam Hindu/bali tidak ada tradisi selamatan dalam bentuk apapun, yang ada adalah tradisi banten sesajen untuk upacara tertentu.
3.apakah anda pernah membaca langsung ato melihat sendiri Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 tentang hari hari selamatan versi aslinya milik orang hindu? semua yg anda copy itu berasal dari link yang bukan asli hindu....

maka, jika selamatan berasal dari hindu itu salah total

أبو فجر خسين mengatakan...

sepertinya perlu diupload rekaman ceramah seorang ustadz mantan pendeta hindu, biar kebuka hatinya

Anonim mengatakan...

upload bang...penting ui...ni jadi pembahsan di kampus

aangnoe mengatakan...

asslamualaikum..
memang terasa sebuah moment yang membebankan kepada umat islam apa lagi yang kurang mampu apabila itu di haruskan.
Kemarin saja ketika nenek saya meninggal itu acara dari satu hari sampe ke 7 nya itu menghabiskan uang 4 juta dan itu tidak etis bget dimana orang yang sedang berkabung di haruskan memebri sesuatu kepada semua orang yang di anggap keharusan mencapai 4 jta rupiah..
apakah islam membebani seseorang dengaan adanya ritual seperti itu...
padahal doa saja cukupkan?

أبو فجر خسين mengatakan...

wa'alaikumussalaam. betul saudaraku. apalagi samapi hutang-hutang karena sudah dianggap wajib. ini yang paling bahaya, berarti sudah mmbuat syariat baru dalam islam,islam tidak pernah mensyariatkan hal itu.

Ricki Hidayat mengatakan...

Memang membingungkan, mungkin admin dapat menjelaskan referensinya bahwa budaya itu adalah Bid'ah, karena dari budaya itulah islam dapat masuk ke nusantara ini, itu yang dilakukan oleh para wali. Selain itu juga menjadi salah budaya tersebut jika menjadi beban bagi keluarga duka dalam hal materi, juga hanya menjadi ajang lomba membaca surat Yasin yang tidak sesuai syariat dalam membaca Al-Qur'an.

aldo silvado mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
ismii mengatakan...

bismillahirrohmaanirrohiim
mari bersama sama belajar islam yang sesungguhnya agar kita tidak dikatakan beragama karena warisan orang tua,kita harus tahu apa itu islam,bagaimana ajaran'y yg sebenarnya,sebagai generasi muslim yg hebat dan perfikiran kritis,kita harus bisa membuka fikiran dan hati kita,untuk mau menerima kebenaran meskipun itu bertentangan dengan kebiasaan umum.

Poskan Komentar

Silahkan kasih komentar, dengan syarat menjaga adab-adabnya, tidak mengandung kata-kata kotor, makian dan sebagainya. Dan kami tidak melayani perdebatan atas sesuatu yang telah jelas dari al-Qur'an, as-Sunnah dan Ijma', namun jika ada hal yang masih samar, silahkan tanyakan

Kritik dan Sarannya tafadhol

Blog Sahabat Sunnah