Pendekar Sunnah - Abu Fajri Khusen's Blog

Jumat, 09 September 2011

Tafsir Al Fatihah bag 11 - Antara ilmu dan Amal

بسم الله الرحمن الرحيم  .  الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين،  أما بعد
: ......

Setelah kita melewati bulan Ramadhan yang diberkahi, selama itu pula kajian tafsir kita diliburkan. Ketika Ramadhan berakhir, Ada banyak rasa yang tak bisa terungkapkan baik dengan kata-kata maupun tulisan tinta. Namun hanya bisa dirasakan dalam dada. Hah, mulai deh bersajak ria. Tak ada habisnya nanti, jika mengungkapkan seluruh isi hati, tentang Ramadhan yang tlah pergi,, tuh kan mulai lagi.. Ayo Ngaji, bersama Abu Fajri, kita lanjutkan kajian tafsirnya disini, yo mari.. Kita ikuti.


1. I'rob Kata
Shiraatha : maknanya jalan (yang lurus). Dia badal muthabiq dari kalimat “Ash-shirat” sebelumnya, keadaannya mansub, dan tanda nasabnya adalah fathah dhohiroh (yang nampak jelas). Sedangkan ia adalah mudhaf.
Alladziina : Isim mausul, mabni fathah, menempati tempat jar berkedudukan menjadi mudhaf ilaih.
An'amta : artinya Engkau telah beri nikmat. Dia fiil madhi mabni sukun, karena bersambungnya dengan
huruf “Ta fail”. Sedangkan huruf “Ta” adalah dhamir (kata ganti) yang bersambung dengan fiil (kata kerja) keadaannya tetap fathah menempati tempat rofa’ berkedudukan fail.
'Alaihim : artinya atas/kepada mereka. “’Ala” adalah huruf jar mabni sukun, tidak ada i’rab baginya. Dan huruf “Ha” adalah dhamir (kata ganti) yang bersambung dengan fiil (kata kerja) keadaannya tetap kasrah
menempati tempat majrur oleh “Ala”. Dan huruf “mim” adalah huruf yang menunjukan pada jama mudzakar.
Dan jumlah fi’liyyah menjadi silah mausul. Sybhul jumlah dari jar- majrur menempati tempat nasab berkedudukan maf’ul bih.
Ghairi : badal dari kalimat “Alladzĩna” majrur. Badal nakirah dari kalimat yang ma’rifah, keadaannya
majrur, dan tanda jarnya adalah kasrah yang nampak jelas diakhirnya. Dan ia adalah mudhaf.
Al-Maghduub : mudhaf ilaihi majrur, tanda jarnya adalah kasrah yang nampak jelas.
'Alaihim : telah dijelaskan I’robnya pada kalimat “An’amta ‘alaihim”. Sybhul
jumlah jar-majrur menempati tempat rofa’ berkedudukan naib fail dari kalimat“Maghdub”, sebab ia adalah
isim maf’ul. wa : huruf “Wau” adalah huruf athaf tetap fathah, tidak ada tempat I’rab baginya. “Laa” Shilah
bermakna “zaidah”, sebagai penguat (menurut Ulama Basrah)
Sedangkan menurut Ulama Kuffah; adalah isim yang bermakna “ghairo” yaitu keadaannya ma’tuf.
Waladhaaliin : menurut pendapat ulama Basrah; ma’tuf kepada kalimat “Maghdhub” keadaannya majrur, dan tanda jar-nya adalah “ya”, sebagai peganti dari kasrah kerena jama’ mudzakar salim. Dan huruf “nun” adalah peganti dari tanwin ketika ada dalam keadaan mufrad.
ﺁﻣﻴﻦ : isim fiil amr yang bermakna: “ijabahlah”.Keadaannya tetap sukun. Dan diberi harakat dengan
fathah untuk mencocokan dengan huruf “ya” sebelumnya. Dan failnya adalah tersembunyi, takdirnya adalah dhamir “anta” (kamu).


2. Tafsir Ayat
"Shirootolladziina an'amta 'alaihim" (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), merupakan tafsiran bagi firman-Nya "ashiroothol mustaqiim" (jalan yang lurus) yang ada pada ayat sebelumnya. Menurut para ahli nahwu, kedudukan ayat ini adalah badal, namun boleh pula sebagai athaf bayan. Wallohu a'lam.

Yang dimaksud "orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka" pada ayat diatas adalah mereka yang disebutkan dalam surat an - Nisaa' ayat 69-70, silahkan buka mushafnya.
Yang artinya : "Dan barangsiapa yang menaati Alloh dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan ORANG-ORANG YANG DIANUGERAHI NIKMAT OLEH ALLOH, yaitu Para Nabi, para shiddiqun, para Syuhada, dan para sholihin..."

Dan seutama-utama Nabi adalah Nabi Muhammad shallallahi 'alaihi wasallam. Dan seutama-utama shiddiqun adalah Abu Bakar ash shiddiq. Dan seutama-utama asy Syuhada adalah Umur bin Khaththab dan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhuma. Dan seutama-utama shalihiin yaitu para shahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in.

"Ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dholliin". (Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat). Jumhur ulama membaca "ghairi" dengan memberikan kasrah pada huruf ra', dan kedudukannya dalam kalimat sebagai na'at (sifat). Az Zamakhsyari mengatakan: "Ia boleh juga dibaca dengan harakat fathah, dan kedudukannya sebagai haal (keterangan keadaan). Ini adalah bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Umar bin Khaththab, dan riwayat dari Ibnu Katsir. Yang menjadi Dzul Haal (sesuatu yang diterangkan) adalah dhamir dalam kata "'alaihim", sedangkan 'amilnya adalah lafazh "an'amta".

Artinya, tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh hidayah, istiqamah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Bukan juga jalan orang-orang yang mendapat murka, yaitu mereka yang tidak memiliki niat yang baik, mereka mengetahui kebenarah namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan dan tidak mendapat jalan menuju kebenaran.

Sejatinya, baik Yahudi maupun Nasrani, keduanya adalah golongan yang sesat dan mendapat murka. Hanya saja, sifit Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan. Sebagaimana firman Allah tentang mereka: من لعنه الله وغضب عليه
"yaitu orang yang dilaknat dan dimurkai Allah." (QS. Al Maidah: 60).

Pantas banget kalau mereka disifati maghdub, mereka mengetahui bahwa yang disampaikan para Rasul adalah al Haq, tapi karena kesombongannya, karena ajaran para Rasul bertentangan dengan hawa nafsunya, para Nabi pun mereka bunuh. Padahal mereka tahu kebenaran.


Sedangkan sifat Nasrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman-Nya:
قدضلوا‎ منقبل‎ ‎وأضلوا‎ ‎عن‎ سوآءالسبيل‎
"Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia dari jalan yang lurus" (QS. Al Maidah: 77).




 Diantara bukti bahwa orang Yahudi berilmu, diantaranya disebutkan dalam hadits berikut:


ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦُ ﺑْﻦُ ﺍﻟﺼَّﺒَّﺎﺡِ ﺳَﻤِﻊَ
ﺟَﻌْﻔَﺮَ ﺑْﻦَ ﻋَﻮْﻥٍ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ
ﺍﻟْﻌُﻤَﻴْﺲِ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﻗَﻴْﺲُ ﺑْﻦُ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ
ﻋَﻦْ ﻃَﺎﺭِﻕِ ﺑْﻦِ ﺷِﻬَﺎﺏٍ ﻋَﻦْ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ
ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩِ
ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻳَﺎ ﺃَﻣِﻴﺮَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔٌ
ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻜُﻢْ ﺗَﻘْﺮَﺀُﻭﻧَﻬَﺎ ﻟَﻮْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ
ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩِ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻟَﺎﺗَّﺨَﺬْﻧَﺎ
ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻋِﻴﺪًﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻱُّ ﺁﻳَﺔٍ
ﻗَﺎﻝَ } ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ
ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ
ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ { ﻗَﺎﻝَ
ﻋُﻤَﺮُ ﻗَﺪْ ﻋَﺮَﻓْﻨَﺎ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ
ﻭَﺍﻟْﻤَﻜَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻴﻪِ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻫُﻮَ
ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﺑِﻌَﺮَﻓَﺔَ ﻳَﻮْﻡَ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ash Shabbah bahwa dia mendengar Ja'far bin 'Aun berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Al 'Umais, telah mengabarkan kepada kami Qais bin Muslim dari
Thariq bin Syihab dari Umar bin Al Khaththab; Ada seorang laki-laki Yahudi berkata: "Wahai Amirul Mu'minin, ada satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca, seandainya ayat itu diturunkan kepada kami Kaum Yahudi, tentulah kami jadikan (hari diturunkannya ayat itu) sebagai hari raya ('ied). Maka Umar bin Al Khaththab berkata: "Ayat apakah itu?" (Orang Yahudi itu) berkata: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku- cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku- ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian". (QS. Al Maidah ayat 3). Maka Umar bin Al Khaththab menjawab: "Kami tahu hari tersebut dan dimana tempat diturunkannya ayat tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu pada hari Jum'at ketika Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berada di 'Arafah.
[HR. Bukhari]

ﻭ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪُ ﺑْﻦُ ﺣُﻤَﻴْﺪٍ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ
ﺟَﻌْﻔَﺮُ ﺑْﻦُ ﻋَﻮْﻥٍ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﺃَﺑُﻮ
ﻋُﻤَﻴْﺲٍ ﻋَﻦْ ﻗَﻴْﺲِ ﺑْﻦِ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻋَﻦْ
ﻃَﺎﺭِﻕِ ﺑْﻦِ ﺷِﻬَﺎﺏٍ ﻗَﺎﻝَ ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ
ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩِ ﺇِﻟَﻰ ﻋُﻤَﺮَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ
ﺃَﻣِﻴﺮَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔٌ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻜُﻢْ
ﺗَﻘْﺮَﺀُﻭﻧَﻬَﺎ ﻟَﻮْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻣَﻌْﺸَﺮَ
ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩِ ﻟَﺎﺗَّﺨَﺬْﻧَﺎ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻋِﻴﺪًﺍ
ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺃَﻱُّ ﺁﻳَﺔٍ ﻗَﺎﻝَ } ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ
ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢْ
ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ { ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﺇِﻧِّﻲ
ﻟَﺄَﻋْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻴﻪِ
ﻭَﺍﻟْﻤَﻜَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻴﻪِ ﻧَﺰَﻟَﺖْ
ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺑِﻌَﺮَﻓَﺎﺕٍ ﻓِﻲ ﻳَﻮْﻡِ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ
Telah menceritakan kepadaku Abdu bin Humaid telah mengkhabarkan kepada kami Ja'far bin Aun telah mengkhabarkan kepada kami Abu Umais dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab berkata: Seorang Yahudi mendatangi Umar lalu berkata: Wahai Amirul Mu`minin, ada satu ayat didalam kitab kalian yang
kalian baca, andai ayat itu turun pada kami kaum Yahudi, pasti kami menjadikan hari itu sebagai hari Raya. Umar bertanya: Ayat apa? Ia menjawab: "Pada hari Ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Al Maa`idah: 3) Umar berkata: Sesungguhnya aku tahu hari dan tempat ayat ini diturunkan, ayat itu turun pada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Salam di Arafah pada hari jum'at. [HR. Muslim]

Subhanallah, orang Yahudi hafal ayat al Qur'an ya,, malu dong umat islam ga hafal kitab sucinya sendiri.


3. Hikmah:

Ada hikmah menarik kenapa Alloh menyebutkan "shiroothol ladziina an'amta 'alaihim" (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka) setelah Dia menyebutkan "ihdinash shiroothol mustaqiim".

Apa itu?
Bahwasanya Alloh ingin memperteguh pijakan kita diatas jalan-Nya. Kita mengetahui bahwa hanya dengan menempuh jalan yang lurus ini kita akan selamat, maka kita diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada-Nya agar istiqomah di atasnya, sementara Kita juga tahu bahwa jalan ini (islam ) sangat berat, banyak sekali penghalang-penghalangnya, tak mudah menitinya. Saking beratnya, Kita ragu apakah bisa selamat sampai ke tujuan atau tidak.
Nah, Maka dari itu Alloh teguhkan keyakinan kita dengan firman-Nya "shirootolladziina an'amta 'alaihim" bahwa disana ada orang-orang yang telah sukses dan ditolong untuk menempuh jalan ini, mengamalkan syariat islam ini, mereka telah selamat sampai tujuan.
Seperti halnya orang yang lewat ke sebuah jalan yang angker, seram, banyak preman. Orang itu ragu, bisa ga ya selamat sampai ke situ? Ketika dia ragu, tiba-tiba ada orang yang ngasih tahu bahwa kemaren juga ada orang yang lewat situ, selamat sampai tujuan. Akhirnya orang itu pun berani melewati jalan yang seram dan banyak preman itu karena sudah ada orang yang telah mendahuluinya dan selamat.


Nah, kita juga begitu. Meskipun dalam meniti jalan ini, mengamalkan islam ini sangat berat, jangan khawatir. Sebab telah ada orang-orang yang sama-sama meniti jalan ini, mengamalkan islam dan mereka telah sukses mendahului kita.

Hmm.. Demikianlah sedikit yang bisa saya persembahkan mengenai tafsir ringkas ayat terakhir dari surat al fatihah ini, untuk selanjutnya kita akan membahas tentang lafazh "aamiim". Semoga Alloh Azza wa Jalla mengampuni dosa dan kesalahan penulis, juga pembaca sekalian.

Silahkan download rekaman kajian tafsir al fatihah  bersama Ust. Abdullah Zain disni

Subang, 10 Syawwal 1432 H











Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan kasih komentar, dengan syarat menjaga adab-adabnya, tidak mengandung kata-kata kotor, makian dan sebagainya. Dan kami tidak melayani perdebatan atas sesuatu yang telah jelas dari al-Qur'an, as-Sunnah dan Ijma', namun jika ada hal yang masih samar, silahkan tanyakan

Kritik dan Sarannya tafadhol

Blog Sahabat Sunnah